Dosen IPB Ungkap Manfaat Senyawa Alami dari Terapi Hutan
Dosen IPB Ungkap Manfaat Senyawa Alami dari Terapi Hutan Dosen IPB Ungkap Manfaat Senyawa Alami - Dalam konteks tantangan kehidupan di perkotaan yang semakin

Dosen IPB Ungkap Manfaat Senyawa Alami dari Terapi Hutan
Tempatdonasi.com – Dalam konteks tantangan kehidupan di perkotaan yang semakin intens, serta ancaman triple planetary crisis—terdiri dari perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan polusi lingkungan—hutan tidak hanya dianggap sebagai ruang hijau untuk menyejukkan mata. Lebih dari itu, ilmuwan menemukan bahwa hutan memiliki fungsi vital dalam menjaga kesehatan manusia melalui pendekatan terapi alam. Guru Besar IPB University, Siti Badriyah Rushayati, menekankan bahwa konsep ini menawarkan solusi yang holistik, menggabungkan keberlanjutan lingkungan dengan manfaat kesehatan.
Paparan Lingkungan Hutan: Dampak Positif pada Kesejahteraan Manusia
Siti Badriyah Rushayati menjelaskan bahwa jasa lingkungan hutan tidak terbatas pada penyerapan karbon atau perlindungan keanekaragaman hayati. Tumbuhan di hutan secara aktif memproduksi senyawa-senyawa alami yang memiliki manfaat jasmani dan rohani. Dalam konteks ini, phytoncide—senyawa volatil yang dilepaskan oleh tumbuhan—berperan penting sebagai mediator kesehatan. Senyawa ini diproduksi sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, dan gangguan lingkungan, namun manfaatnya juga melimpah bagi manusia.
“Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas sel-sel natural killer yang berperan dalam melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti efektif dalam menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan mental,” kata Siti melalui keterangan tertulis, Senin, 29 Juni 2026.
Siti menjelaskan bahwa phytoncide memiliki sifat antioksidan yang mampu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Selain itu, senyawa ini dapat membantu menurunkan tekanan darah, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mengurangi gejala kecemasan. Dalam konteks kehidupan modern yang sering dipenuhi oleh polusi udara dan stres psikologis, terapi hutan menjadi alternatif yang menarik untuk meningkatkan kualitas hidup.
Potensi Ekonomi dari Konsep Healing Forest
Terapi hutan tidak hanya membawa manfaat bagi kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada perekonomian masyarakat. Siti menyoroti bahwa pengembangan wisata berbasis jasa lingkungan hutan bisa menjadi sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem. Salah satu contoh yang sukses diterapkan adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, yang menawarkan paket wisata terapi hutan lengkap dengan jalur khusus, aktivitas relaksasi alami, dan pendampingan oleh pemandu yang terlatih.
“Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan,” ujarnya.
Konsep ini menunjukkan bahwa hutan tidak hanya bisa menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dengan memanfaatkan senyawa alami yang dilepaskan oleh tumbuhan, hutan mampu menawarkan pengalaman terapi yang tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga memberikan dampak psikologis yang berkelanjutan. Siti menegaskan bahwa pengelolaan hutan yang cerdas perlu dilakukan untuk memaksimalkan manfaat ini.
Kondisi Terapi Hutan yang Optimal
Meski terapi hutan memiliki banyak manfaat, Siti menekankan bahwa implementasinya harus disertai persyaratan khusus agar efektif. Faktor seperti kebisingan, kualitas udara, dan kondisi fisik lokasi menjadi penentu keberhasilan proses relaksasi. Dalam ruang terapi alami, kebisingan yang rendah dan suasana yang tenang sangat penting untuk membantu manusia merasakan keseimbangan emosional.
“Dalam healing forest, seluruh pancaindra harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal,” katanya.
Siti juga menyoroti bahwa terapi hutan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Lokasi terapi harus dipilih dengan hati-hati, termasuk memastikan kebersihan udara, keamanan medan, dan keberlanjutan ekosistem. Selain itu, pengunjung perlu memiliki kesiapan psikologis untuk menjalani pengalaman ini, seperti meminimalkan penggunaan teknologi atau alat bantu modern yang bisa mengganggu ketenangan alami.
Kebutuhan Pendekatan Berbasis Lanskap
Dalam upaya menghadapi triple planetary crisis, Siti menegaskan bahwa perlu pendekatan yang berbasis lanskap. Hal ini mencakup konservasi dan restorasi ekosistem, pengembangan hutan kota, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan penyerapan polutan oleh vegetasi. Selain itu, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam membangun kebijakan yang berkelanjutan.
Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya bisa tercapai jika pembangunan dilakukan secara selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan. Dengan memperhatikan aspek kesehatan manusia, seperti pengurangan stres dan peningkatan imunitas, hutan bisa menjadi bagian dari solusi kehidupan yang seimbang. Konsep ini menggambarkan bahwa alam bukan hanya sumber daya, tetapi juga partner dalam menjaga kesejahteraan umat manusia.
Siti menyatakan bahwa pendekatan berbasis lanskap memerlukan integrasi antara kebutuhan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dengan memanfaatkan senyawa alami yang dilepaskan oleh tumbuhan, hutan bisa memberikan manfaat yang luas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, pengunjung yang melakukan terapi hutan tidak hanya mendapatkan kesehatan fisik yang lebih baik, tetapi juga mengalami peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kebutuhan menghadapi tantangan lingkungan juga memerlukan kolaborasi antar institusi. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk membangun infrastruktur terapi hutan yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kesehatan. Dengan memaksimalkan potensi ini, hutan bisa menjadi pusat pengembangan ekonomi berkelanjutan yang sekaligus menjaga keberlanjutan bumi.
