Bahaya Kesehatan Kue Putu Dikukus Menggunakan Pipa PVC
Bahaya Kesehatan Kue Putu Dikukus Menggunakan Pipa PVC Facing Challenges - Dalam dunia kuliner tradisional Indonesia, putu kue menjadi salah satu makanan yang

Bahaya Kesehatan Kue Putu Dikukus Menggunakan Pipa PVC
Tempatdonasi.com – Dalam dunia kuliner tradisional Indonesia, putu kue menjadi salah satu makanan yang terkenal karena rasa dan tekstur uniknya. Namun, praktik pembuatan putu kue yang kini banyak dilakukan dengan menggunakan pipa paralon atau PVC menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan yang mungkin terjadi. Hal ini diangkat oleh Eko Hari Purnomo, pakar dari Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, yang menyoroti risiko dari penggunaan bahan plastik dalam proses kukusan.
Penggunaan Pipa PVC dalam Membuat Putu Kue
Eko menjelaskan bahwa pipa PVC seharusnya tidak digunakan untuk mencetak dan mengukus putu kue. Perpindahan komponen plastik beracun ke dalam makanan menjadi perhatian utama, terutama ketika suhu dalam proses pengukusan mencapai 100 derajat Celcius. Banyak pedagang yang beralih dari alat tradisional berbahan bambu ke pipa PVC, baik karena kepraktisan maupun biaya yang lebih rendah. Namun, keputusan ini mengandung risiko yang bisa memengaruhi kualitas dan keamanan makanan.
"Pipa paralon secara dasar dirancang untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, khususnya jenis unplasticized PVC yang hanya tahan pada suhu di bawah 50 derajat Celcius. Penggunaannya pada suhu tinggi seperti dalam proses pengukusan putu kue bisa memicu migrasi bahan kimia berbahaya ke dalam makanan," ujar Eko melalui keterangan tertulis, Selasa, 23 Juni 2026.
Dampak Kesehatan yang Berpotensi Timbul
Pembuatan putu kue memerlukan suhu sekitar 80 derajat Celcius untuk memastikan gelatinisasi pati beras, bahan utama kue tersebut. Namun, suhu ini cukup untuk menyebabkan komponen dalam pipa PVC, seperti stabiliser, terlepas dari permukaan alat ke dalam adonan. Stabiliser yang mengandung timbal (Pb) bisa menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal jika masuk ke tubuh dalam jumlah besar. Selain itu, monomer pembentuk PVC yang terlepas juga memiliki potensi sebagai bahan karsinogenik, yang berisiko memicu pertumbuhan sel kanker.
"Penggunaan pipa PVC pada suhu tinggi bisa mempercepat perpindahan zat tambahan ke dalam makanan. Jenis unplasticized PVC yang umum digunakan dalam praktik ini tidak hanya rentan terhadap suhu, tetapi juga mengandung bahan kimia yang tidak aman untuk konsumsi manusia," terang Eko.
Dalam konteks ini, Eko menekankan bahwa alat cetak dan kukus dari bambu tetap menjadi pilihan terbaik. Bahan alami ini tidak hanya lebih aman, tetapi juga ramah lingkungan dan tidak mengandung bahan kimia beracun. Namun, ia mengingatkan bahwa meskipun menggunakan plastik, pilihan bahan harus tepat. Eko menyebutkan bahwa plastik khusus yang tahan pada suhu tinggi dapat digunakan sebagai alternatif, asalkan memenuhi standar keamanan pangan.
Peran Lintas Sektor dalam Mengedukasi Masyarakat
Menurut Eko, masalah keamanan pangan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan konsumen dalam mengurangi risiko penyalahgunaan bahan baku. Otoritas keamanan pangan, seperti BPOM, serta pemerintah daerah dan institusi pendidikan tinggi perlu aktif dalam memberikan edukasi tentang bahan yang aman untuk digunakan dalam proses masak.
"Kita harus memastikan bahwa masyarakat memahami dampak bahan plastik pada kesehatan. Pemerintah daerah bisa memperketat pengawasan penggunaan alat cetak dan kukus, sementara produsen harus merancang produk yang sesuai dengan kebutuhan masak tradisional. Konsumen pun perlu lebih waspada dalam memilih bahan yang digunakan," tambah Eko.
Dalam pembuatan putu kue, proses pengukusan tidak hanya mengandalkan suhu, tetapi juga durasi dan kondisi alat yang digunakan. Banyak pedagang yang mengabaikan hal ini, sehingga menyebabkan risiko penyerapan komponen plastik ke dalam makanan. Eko menyarankan bahwa proses pencucian alat sebelum digunakan harus dilakukan secara memadai untuk meminimalkan kontak langsung dengan bahan kimia. Hal ini sekaligus membantu melestarikan nilai kultural dan tradisi kuliner Indonesia.
Penggunaan pipa PVC dalam industri makanan ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga mencemari lingkungan. Bahan plastik yang digunakan dalam jumlah besar bisa berkontribusi pada peningkatan limbah plastik, terutama jika tidak dikelola dengan baik. Dengan beralih ke bahan alami seperti bambu, proses produksi menjadi lebih berkelanjutan, seiring dengan mempertahankan rasa dan aroma khas putu kue.
Penyebab Utama Kerusakan Bahan dan Solusi Alternatif
Pipa PVC yang digunakan dalam pengukusan putu kue sering kali mengalami kerusakan karena terus-menerus terpapar panas. Hal ini bisa mempercepat pelepasan bahan kimia berbahaya ke dalam adonan. Eko menekankan bahwa pemilihan bahan cetakan harus disesuaikan dengan fungsi dan kondisi penggunaan. Misalnya, plastik yang tahan terhadap suhu tinggi, seperti jenis tertentu dari polietilen, bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
"Meskipun PVC masih sering digunakan, kita perlu memastikan bahwa bahan tersebut tidak melanggar batas keamanan. Dengan mengetahui sifat bahan baku, kita bisa mengambil keputusan yang lebih bijak untuk menjaga kesehatan dan keselamatan konsumen," pungkas Eko.
Pada akhirnya, isu ini memperlihatkan pentingnya pendidikan dan pengawasan terhadap praktik industri makanan. Eko mengharapkan kebijakan yang lebih ketat dan kesadaran masyarakat untuk memilih bahan baku yang aman, agar kelezatan putu kue tidak terkorbankan oleh potensi bahaya kesehatan. Dengan demikian, tradisi kuliner Indonesia tetap bisa dilestarikan tanpa mengorbankan kualitas makanan dan keamanan konsumen.
