Hari Ini 20 Tahun Lalu, Begini Tsunami Pangandaran Terjadi
Memperingati Dua Dekade Tsunami Pangandaran: Pelajaran dari Bencana yang Masih Mengancam Hari Ini 20 Tahun Lalu Begini - Pada tanggal yang sama persis dua

Memperingati Dua Dekade Tsunami Pangandaran: Pelajaran dari Bencana yang Masih Mengancam
Tempatdonasi.com – Pada tanggal yang sama persis dua puluh tahun silam, tepatnya 17 Juli 2006, gelombang raksasa tsunami menyapu bersih pesisir Pantai Pangandaran beserta wilayah-wilayah di sekitarnya. Bencana dahsyat ini bermula dari guncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang episentrumnya terletak di perairan selatan Jawa Barat. Meskipun telah berlalu puluhan tahun, peristiwa gempa dan tsunami tersebut memiliki potensi untuk terjadi kembali, meskipun waktu pastinya belum dapat diprediksi secara akurat.
Eko Yulianto, seorang peneliti ahli paleotsunami dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan kepada Tempo pada Jumat, 17 Juli 2026 bahwa sebelum kejadian tahun 2006, gempa tsunami di kawasan selatan Pangandaran sudah pernah terjadi pada tahun 1921. Lebih lanjut, Eko menjelaskan bahwa kalkulasi hipotetis yang dilakukan oleh para peneliti lain menunjukkan bahwa perulangan waktu gempa megathrust dengan magnitudo 9 atau lebih di sepanjang pesisir selatan Jawa berkisar sekitar 675 tahun. Sementara itu, gempa-gempa yang lebih kecil cenderung terjadi dengan frekuensi yang lebih sering. “Kejadian gempa kecil pemicu tsunami selatan Jawa setidaknya terjadi pada 1840 dan 1859 di selatan Yogyakarta dan Pacitan, kemudian 1994 di Banyuwangi,” tambahnya.
“Sebelum 2006, gempa tsunami di selatan Pangandaran pernah terjadi pada 1921,” ujar peneliti ahli paleotsunami Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Eko Yulianto kepada Tempo, Jumat 17 Juli 2026.
Dari perspektif seisomologi, Pepen Supendi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa tsunami Pangandaran merupakan salah satu yang terbesar di Pulau Jawa, hanya tertinggal setelah kejadian di Banyuwangi. Gelombang tsunami tersebut tiba sekitar satu jam setelah gempa terjadi, yaitu antara pukul 16.15 hingga 16.30 WIB, dengan ketinggian rata-rata mencapai 5 hingga 10 meter. Tidak hanya Pangandaran, dampak tsunami juga dirasakan hingga Cilacap dan wilayah selatan Yogyakarta sepanjang garis pantai yang membentang 250 kilometer. Pepen menambahkan bahwa gelombang tsunami terus berlangsung selama berjam-jam di Samudera Hindia hingga mencapai benua Afrika. Hal ini disampaikan dalam acara webinar peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran pada Kamis, 16 Juli 2026.
“Gelombang tsunami terus terjadi selama berjam-jam di Samudera Hindia hingga Afrika,” katanya di acara webinar tentang peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, Kamis 16 Juli 2026.
Menurut Pepen, proses pecahnya kerak bumi atau rupture yang memicu bencana tersebut berlangsung sangat lambat dengan durasi 3 menit. Kejadian ini terjadi pada kedalaman dangkal saat gempa dan tsunami Pangandaran melanda. Mekanisme pecahnya kerak bumi sepanjang 200 kilometer ini menyebabkan guncangan gempa tidak terlalu dominan atau relatif lemah. Namun, mengapa tsunami yang dihasilkan begitu signifikan? Pepen menjelaskan bahwa pusat gempa berada dekat dengan palung atau trench, sehingga proses pengangkatan dasar samudra menjadi sangat efisien.
“Kenapa bisa sampai menyebabkan tsunami Pangandaran yang signifikan, karena pusat gempanya berada dekat dengan palung (trench) sehingga efisien mengangkat dasar samudra,” kata Pepen.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran mencatat bahwa bencana ini menewaskan 405 orang, 27 orang dinyatakan hilang, 274 orang terluka, dan sebanyak 13.198 orang terpaksa mengungsi. Dodo Kusnadi, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, menyebutkan bahwa saat ini terdapat dua lokasi yang telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terulangnya tsunami, yaitu Desa Pangandaran dan Batu Karas. Terkait sistem tanda evakuasi, Dodo mengakui bahwa masih terdapat variasi petunjuk, termasuk beberapa yang mengarah ke hotel-hotel. “Ternyata hotel-hotel yang tinggi di Pangandaran itu semuanya sudah siap menjadi tempat evakuasi terutama untuk keamanan wisatawan,” ujarnya.
“Ternyata hotel-hotel yang tinggi di Pangandaran itu semuanya sudah siap menjadi tempat evakuasi terutama untuk keamanan wisatawan,” katanya.
Dodo juga menekankan bahwa cagar alam merupakan tempat evakuasi terdekat dari pantai yang sebelumnya telah terbukti aman saat tsunami tahun 2006. “Cagar alam itu tempat yang paling aman dan dekat dari pantai,” tegasnya. Di sisi lain, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengingatkan bahwa tsunami adalah bencana langka sehingga kesadaran masyarakat cenderung memudar seiring berjalannya waktu. Peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran harus dimaknai sebagai upaya menjaga ingatan kolektif sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami di masa depan. “Kesiapsiagaan hanya dapat terwujud apabila kesadaran tetap hidup,” kata Nelly sambil menambahkan, “Peringatan ini bukan hanya untuk mengenang tragedi, tetapi memastikan pelajaran dari masa lalu tidak terulang bagi anak cucu kita.”
“Kesiapsiagaan hanya dapat terwujud apabila kesadaran tetap hidup,” kata dia sambil menambahkan, “Peringatan ini bukan hanya untuk mengenang tragedi, tetapi memastikan pelajaran dari masa lalu tidak terulang bagi anak cucu kita.”
Dengan demikian, peringatan ini menjadi momen penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak hanya mengenang, tetapi juga siap menghadapi ancaman serupa yang mungkin datang kembali suatu hari nanti.
