Skip to content
Tekno

Inovasi Tim Riset ITB Hasilkan Pepton dari Maggot

Wahyu Santoso - tempatdonasi.com 3 mins read

Tim peneliti yang berasal dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung telah berhasil mengembangkan inovasi baru dalam pembuatan pepton

Inovasi Tim Riset ITB Hasilkan Pepton dari Maggot

Pepton Berbasis Maggot: Terobosan Riset ITB untuk Industri Mikroba

Tempatdonasi.com – Tim peneliti yang berasal dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung telah berhasil mengembangkan inovasi baru dalam pembuatan pepton. Senyawa protein ini berfungsi sebagai media pengembang biak mikroba, dan sumber utamanya kini berasal dari maggot, yaitu larva lalat tentara hitam atau yang dikenal sebagai Black Soldier Fly (BSF). Pencapaian ini tidak hanya menarik perhatian para investor, tetapi juga menawarkan solusi potensial untuk dua masalah sekaligus: pengelolaan limbah organik dan pengurangan ketergantungan terhadap pepton yang diimpor dari luar negeri.

Konteks dan Potensi Pasar

Muhammad Yusuf Abduh, selaku ketua tim riset, menjelaskan bahwa pepton memegang peranan vital sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan mikroba. Penggunaannya sangat luas, mulai dari kegiatan akademik di laboratorium kampus hingga proses manufaktur berskala industri di sektor bioteknologi, farmasi, dan pangan. Selama bertahun-tahun, institusi seperti ITB mengandalkan pasokan pepton dari negara lain, khususnya Jerman dan Amerika Serikat. Harga komoditas ini berkisar antara Rp 1,3 hingga Rp 5 juta per kilogram, tergantung kualitasnya.

Data riset yang dikumpulkan oleh tim menunjukkan tren positif. Permintaan pepton mengalami kenaikan sebesar 12,7 persen setiap tahunnya. Volume pasar domestik saat ini mencapai 13 juta kilogram dengan nilai estimasi US$ 29 juta. Yusuf menyampaikan optimisme kepada Tempo pada Ahad, 19 Juli 2026, bahwa tepung maggot dapat dikonversi menjadi pepton dengan pasar yang sangat menjanjikan.

“Tepung dari maggot ini bisa diubah menjadi pepton yang pasarnya sangat besar,” kata Yusuf kepada Tempo, Ahad, 19 Juli 2026.

Keunggulan dan Proses Produksi

Pepton impor umumnya dibuat dari bahan nabati seperti kedelai atau hewani berupa ikan dan daging sapi. Tim ITB berupaya menemukan alternatif lokal dari semua bahan baku pepton impor tersebut, yaitu maggot. Setelah melalui serangkaian uji coba dan perbandingan, ditemukan bahwa pepton berbasis maggot memiliki profil asam amino esensial yang lebih tinggi. Yusuf menegaskan bahwa pepton maggot menawarkan profil asam amino yang lebih lengkap, sehingga mendorong pertumbuhan mikroba menjadi lebih optimal.

Hasil uji performa biologis membuktikan hal tersebut. Kepadatan sel atau densitas mikroba yang diberi nutrisi pepton maggot mencapai 1,15 x 10 pangkat 9, atau 90 persen lebih tinggi dibandingkan pepton komersial yang hanya sebesar 6,05 x 10 pangkat 8. Yusuf menambahkan bahwa dampak positifnya adalah efisiensi penggunaan pepton menjadi lebih baik. Selain itu, kalkulasi tim riset menunjukkan bahwa pepton maggot bisa dijual dengan harga separuh dari produk impor.

“Pepton dari maggot memiliki profil asam amino yang lebih lengkap,” ujarnya.

Proses produksi pepton maggot melibatkan beberapa tahap. Maggot yang lazim digunakan untuk mengolah sampah organik dikeringkan terlebih dahulu. Beberapa produsen memisahkan lemak untuk dijadikan minyak, sementara sisanya dihaluskan menjadi tepung pakan ternak. Yusuf menjelaskan bahwa protein dalam tepung maggot sedikit meningkat karena lemaknya telah dihilangkan. Tahap selanjutnya adalah hidrolisis menggunakan tangki khusus dan enzim tertentu untuk mengecilkan berat molekul protein agar lebih mudah dicerna mikroba. Bobot total tepung maggot tidak berkurang signifikan selama proses ini. Dua tahap tambahan, yaitu hidrolisis dan purifikasi, akan mengubah produk menjadi pepton siap pakai.

Sejarah Riset dan Masa Depan

Riset pepton dari maggot telah dirintis oleh tim ITB sejak tahun 2015. Yusuf menyebutkan bahwa meskipun banyak penelitian mengenai ekstrak protein dari lalat tentara hitam, belum ada yang melaporkan aplikasi hidrolisis protein sebagai pepton untuk media nutrisi pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik pepton maggot dan pengaruhnya terhadap berbagai jenis mikroba.

Dalam perkembangannya, tim telah menjalin kerja sama dengan mitra industri agrobisnis. Mitra tersebut memasok limbah organik sebagai pakan maggot hingga diolah menjadi tepung, kemudian menggunakan pepton maggot hasil uji coba tim peneliti ITB. Yusuf menekankan bahwa komposisi limbah organik memengaruhi profil asam amino dan kandungan protein maggot. Ke depannya, standarisasi limbah organik menjadi kunci untuk menghasilkan pepton dengan kualitas tertentu.

“Karena itu penelitian dilakukan untuk mengkaji karakteristik pepton dari maggot dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan berbagai jenis mikroba,” katanya.

Selain limbah agroindustri, proses pembuatan pepton ini juga berpotensi mengatasi sampah organik dari rumah tangga, restoran, atau pasar. Yusuf memberikan contoh bahwa dari 1 kilogram maggot, dapat dihasilkan pepton sebanyak 4 persen atau setara dengan 40 gram. Inovasi ini tidak hanya membuka peluang bisnis bagi calon investor yang sudah memproduksi maggot, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan kemandirian industri nasional.

Join the discussion